• Juni 6, 2024

Apa Itu African Swine Fever atau ASF, Virus yang Ditemukan pada Dua Sampel Babi di NTT

Dua sampel babi dikonfirmasi positif virus African Swine Fever (ASF) oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata, NTT. Hasil tersebut didapat setelah sejumlah sampel dikirimkan ke Laboratorium Veteriner Denpasar, Bali.

Menginformasikannya Pos Kupang, (Plt) Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Lembata, Theresia Making, melarang siapa siapa untuk mengirim babi antar wilayah maupun mengedarkan daging secara bebas guna mencegah penularan virus tersebut.

Theresia menceritakan, angka kematian babi di Lembata sudah cukup tinggi. Semenjak Mei 2024, sebanyak 239 ekor babi mati dan dua di antaranya terkonfirmasi positif ASF.

Lalu, apa itu ASF yang tergolong membahayakan?
African Swine Fever (ASF) yaitu penyakit viral yang sangat menular yang menyerang babi domestik dan babi liar. Penyakit ini disebabkan oleh virus ASF (ASFV), yang termasuk dalam keluarga Asfarviridae. ASF pertama kali diidentifikasi di Afrika pada slot server thailand awal abad ke-20, dan sejak itu sudah menyebar ke pelbagai belahan dunia, termasuk Eropa, Asia, dan komponen lain dari Afrika. ASF tidak menular ke manusia, tetapi pengaruhnya pada industri peternakan babi dapat sangat merugikan.

Kenapa Virus ASF Membahayakan?
ASF sangat membahayakan karena sebagian alasan utama:

Tingkat Kematian Tinggi: ASF mempunyai tingkat kematian yang sangat tinggi pada babi, mencapai hampir 100% dalam sebagian kasus. Tidak ada vaksin yang tepat sasaran atau pengobatan khusus untuk ASF, sehingga penyebaran virus ini dapat menyebabkan kematian massal pada populasi babi.
Penyebaran Cepat: ASF dapat menyebar dengan sangat kencang melewati kontak lantas dengan babi yang terinfeksi, konsumsi produk babi yang terkontaminasi, atau melewati vektor seperti kutu. Virus ini juga dapat bertahan dalam lingkungan selama berbulan-bulan, malahan dalam produk daging yang sudah diawetkan.
Imbas Ekonomi: Wabah ASF dapat menghancurkan industri peternakan babi, menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi peternak dan negara yang bertumpu pada industri ini. Larangan perdagangan dan ekspor babi dari wilayah yang terkena wabah juga dapat merugikan ekonomi secara keseluruhan.

Cara Pencegahan dan Penanganan Penularan ASF
Mencegah dan mengontrol penyebaran ASF membutuhkan pendekatan terpadu yang melibatkan langkah-langkah berikut:

  1. Biosekuriti yang Ketat

Penerapan praktik biosekuriti yang ketat di peternakan yaitu langkah pertama yang sangat penting. Ini termasuk mengontrol jalan masuk ke peternakan, desinfeksi kendaraan dan peralatan yang masuk ke area peternakan, serta menentukan kebersihan pekerja peternakan.

  1. Pengawasan dan Diagnostik

Pengawasan yang ketat dan kencang dalam mendeteksi adanya ASF sangat penting. Laboratorium diagnostik sepatutnya kapabel mengidentifikasi virus ASF dengan kencang untuk mencegah penyebarannya.

  1. Pengontrolan Vektor

Mengendalikan populasi kutu dan vektor lainnya yang dapat menyebarkan virus ASF yaitu komponen penting dari strategi pencegahan. Penerapan insektisida dan menjaga lingkungan peternakan konsisten bersih dapat membantu mengurangi risiko.

  1. Edukasi dan Penyuluhan

Peternak dan pekerja peternakan sepatutnya diberi pengetahuan yang memadai tentang ASF dan metode pencegahannya. Edukasi tentang pentingnya pelaporan dini dan tindakan lantas saat ada tanda-tanda penyakit sangat penting.

  1. Pengontrolan Pergerakan

Pengontrolan ketat kepada pergerakan babi dan produk babi, secara khusus dari tempat yang terkena wabah, yaitu langkah kunci dalam mencegah penyebaran ASF. Pengontrolan ini sepatutnya digunakan dengan tegas untuk menentukan virus tidak menyebar ke wilayah lain.

  1. Penghancuran yang Terinfeksi

Babi yang terinfeksi atau yang sudah kontak dengan babi yang terinfeksi sepatutnya lantas dibinasakan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. Langkah ini sering kali kali menyakitkan bagi peternak, tetapi sangat penting untuk mengontrol wabah.