• Januari 18, 2024
Saronen

Mengenal Saronen, Seni Musik Khas Madura

Saronen berasal berasal dari Madura. Saronen kerap digunakan untuk mengiringi karapan sapi. Saronen termasuk ditemukan di wilayah lain, layaknya Tanah Pasundan (tarompet), Bali (pereret), Sumatera, serta Banyumas (tetepret).

Alat musik berikut dianggap sebagai ciri khas Madura gara-gara diperkirakan senantiasa mengiring karapan sapi, serta kami akan membahas tentang beberapa permainan dari situs judi online terbaik di link slot demo spadegaming demo nolimit city dan https://www.baznassarolangun.org/blog/nexus-slot/.

Saronen

Asal-usul Saronen

Awalnya saronen berasal berasal dari Timur Tengah. Di daerah tersebut, alat musik berikut dikenal dengan nama beraneka ragam, yakni surnai, sarune, sirnai, maupun shahnai.

Di Madura, bunyi saronen sudah dimodifikasi.

Dalam salah satu versi menjelaskan konon di Sumenep, kesenian berikut sudah berusia lebih berasal dari 500 tahun yang diciptakan oleh Ki Hatib berasal dari Desa Sendang, Kecamatan Pragaan.

Ia merupakan pendiri pesantren pertama di Madura. Ki Hatib adalah katandur atau berdakwah di dalam bidang pertanian.

Pada waktu itu, saronen sebagai layanan dahwah. Instrumen saronen berjumlah sembilan yang merupakan filosofi sembilan suku kata berasal dari Bis Mil La Hir Roh Ma Nir Ro Him.

Pada awalnya, Saronen yang dinamakan Sannenan berikut senantiasa dimainkan terhadap tiap-tiap hari Senin di Pasar Ganding, Kecamatan Ganding.

Di Madura, saronen dikaitkan dengan sapi (saat karapan maupun pertandingan kecantikan sapi betina), kuda (untuk upacara ritual di malam keramat maupun upacara pesta perkawinan), serta tarian topeng untuk upacara ritual spesifik (klono).

Instrumen berikut diikuti dengan dua pelawak yang menari (atandang) cocok dengan irama musik. Sesekali dua pelawak berikut berhenti menari kemudian melantunkan pantun yang bernada dakwah.

Isinya berupa mengajak penduduk supaya menganut ajaran agama Islam secara benar dan kaffah.

Lama kelamaan, saronen dijadikan sebagai pengiring pengantin, khitanan, rokat, karapan sapi, sapi sonok, dan sebagainya.

Bentuk Saronen

Saronen merupakan alat tiup yang berupa kerucut. Alat musik yang terbuat berasal dari kayu jati ini mempunyai enam lobang berderet di depan dan satu lubang di belakang.

Ada kait berupa gelang kecil berasal dari kuningan untuk mengaitkan anggota bawah dengan anggota atas ujungnya yang terbuat berasal dari daun siwalan.

Pada anggota pangkal dilengkapi dengan sayap berasal dari tempurung yang bentuknya menyerupai kumis supaya tingkatkan kejantanan dan kegagahan penggunanya.

Cara Memainkan Saronen

Saronen kebanyakan digunakan sebagai pembuka komposisi dengan permainan solo. Suaranya sedikit sengau, keras, meloncat-loncat, melengking-lengking, dan meliuk-liuk dengan irama menghentak.

Setelah itu, permainan diikuti dengan alat musik lainnya. Perpaduan alat musik berikut menghasilkan irama yang selaras.

Saronen bisa dimainkan cocok dengan type irama yang diinginkannya.

Mekipun, alat musik berikut dominan mempunyai irama mars atau di dalam bahasa Madura irama sarka’, yakni irama tertata dan kuat.

Namun, saronen termasuk bisa menghasilkan irama lorongan atau irama sedang.

Ada dua type irama tersebut, yakni irama tengah “lorongan jhalan” dan irama slow (lembut) “lorongan toju”

Pada waktu mengiringi karapan sapi, saronen dimainkan dengan irama sarka’ untuk beri tambahan stimulan semangat, baik kepada sapi, pemilik, maupun pengiringnya.

Saronen dengan irama sarka’ termasuk dimainkan di dalam memingiringi sepasang pengantin sampai capai pintu gerbang. Karena, irama sarka’ bisa menciptakan suasana hangat.

Sementara, irama lorongan jhalan atau irama tengah terhadap saronen dimainkan di dalam perjalanan capai wilayah tujuan, baik waktu mengiringi sapi karapan atau atraksi sapi sono’.

Irama berikut termasuk digunakan waktu mengiringi kuda serek (jaran kenca’) maupun beraneka ritual yang berkenaan dengan prosesi kehidupan manusia.

Lagu-lagu yang dimainkan berasal berasal dari lagu-lagu gending karawitan, layaknya gending nong-nong, manyar sebuh, lan-jalan, maupun bronto sewu.

Irama roju kebanyakan digunakan untuk mengiringi pengantin terlihat pintu gerbang menuju pintu pelaminan.

Adapun gending-gending yang dimainkan adalah alunan gending angling, puspawarna, kinanti, gung-gung, rarari, dan lainnya.

Kompoenen Saronen

Saronen yang dimainkan secara orkes terdiri berasal dari sejumlah komponen, yaitu:

  • Tabbhuwan raja dan tabbhuwan kene’, yakni masing-masing sebuaha gong besar dan sebuah gong kecil yang digantung di panopang yang sama. Gong berikut dipukul oleh seorang penabuh dengan pukulan yang berbalut kain (bhutabbu).
  • Pendong (gong kecil) dan sebuah kennong pernanga yang ditabuh oleh seorang pemain dengan pemukul yang terbuat berasal dari kayu kaleke. Kennong pernanga terbuat berasal dari besi dengan pentolnya terbuat berasal dari kuningan.
  • Kolkol, kennong lain yang ditaruh di lantai. Kennong terbuat berasal dari ghangsa (campuran kuningan dan perunggu).
  • Ghendang raja adalah gendang besar dengan selaput kulit sapi terhadap kedua ujungnya. Alat ini awalnya ditabuh dengan tongkat kayu kemudian dengan tangan oleh penabuh yang duduk di lantai sambil memangku alat tersebut.
  • Ghendhang kene’ adalah sebuah gendang kecil dengan selaput kulit sapi di kedua ujungnya dan berupa kerucut terpotong di tengah. Alat berikut ditabuh dengan tongkat kayu nangka.
    Sebuah saronen berasal dari kayu jati
  • Kerca-kerca yang berupa sepasang simbal kecil.

Jumlah instrumen bisa tidak senantiasa cocok dengan rombongan yang bersangkutan.