• April 29, 2024

Peternak Kambing Banjarnegara Ubah Kotoran Kambing Menjadi Energi Pilihan

Banjarnegara – Ada sebagian masyarakat di Indonesia yang bingung mencari gas LPG untuk bahan bakar, lantaran kadang gas hal yang demikian menghilang dari sirkulasi.

Tapi kesulitan-kesulitan itu tidak dinikmati oleh peternak depo 10k kambing komunal di Banjarnegara ini. Peternak kambing di Banjarnegara sanggup merubah kotoran kambing menjadi bahan bakar alternatif yang menjanjikan.

Selama ini lazimnya kotoran kambing ini hanya dimanfaatkan sebagian petani sebagai pupuk organik saja. Memang berkhasiat, namun poin ekonomisnya masih kurang. Lalu para petani ini berfikir dan mengerjakan aksi merubah kotoran menjadi gas untuk bahan bakar.

Banjarnegara sebagian wilayahnya pegunungan, komponen sisi utara kabupaten ini masyarakatnya banyak yang bergelut kesehariannya dengan tani dan ternak.

Salah satu pengelola ternak komunal yang memanfaatkan kotoran kambing menjadi gas sebagai bahan bakar ialah Kategori Tani ‘Tani Mulya’ di Desa Kalibombong, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara.

Ahmad Rojikun, pengelola ternak kambing komunal Kategori Tani ‘Tani Mulya’ yang telah mengolah kotoran kambing dari kotoran hingga memiliki manfaat ganda ini mengatakan, kotoran kambing ialah salah satu variasi limbah hewan yang paling banyak dipakai sebagai pupuk organik sebab mereka mengandung banyak gizi penting seperti nitrogen, fosfor, dan kalium.

“Selain sebagai bahan baku pupuk organik, kotoran kambing juga bisa diolah menjadi energi alternatif,” katanya.

Rojikun mengatakan, cara yang dipakai dirinya beserta sejumlah rekannya di kelompoknya ialah dengan mengolahnya dari kotoran kurang berkhasiat menjadi biogas. Pelaksanaan dasarnya ialah proses penguraian kotoran kambing.

Walaupun telah bisa menikmati gas hal yang demikian saebagaiu bahan alternatifm ternyata cara yang dipakai masih sungguh-sungguh sederhana. Termasuk instalasinya.

Ini Pelaksanaan Pembuatannya

Berdasarkan Rojikun, proses pembuatan biogas dari kotoran kambing ini menerapkan sebuah instalasi yang disebut dengan biogas digester yang bisa dihasilkan dengan bak penampung sederhana.

Bak ini akan menguraikan kotoran kambing secara anaerobik dan mewujudkan biogas yang bisa dipakai sebagai sumber energi alternatif.

Ternyata tidak butuh bak yang banyak, mereka hanya memerlukan 3 bak saja sebagai tempat penghasil biogas ini.

“Butuh 3 bak ialah bak penampung kotoran permulaan, bak pemisah gas dan pupuk serta bak pembuangan,” katanya.

Sayangnya, untuk sementara, pemanfaatan kotoran kambing menjadi biogas belum bisa disalurkan ke masyarakat sebab elemen jauhnya kandang komunal dari perkampungan.

“Kami sedang merencanakan akan membikin instalasi bio gas kotoran kambing lebih sederhana lagi supaya bisa dibangun di pemukiman warga mengingat banyak warga Kalibombong memiliki kambing sehingga tidak bingung bahan bakunya. Dari petani oleh petani untuk petani dan operasional peternak akan lebih murah malah malah bisa mendatangkan profit dari sisi kotoran hewan,” katanya.

Ternyata selain biogas, limbah kotoran kambing yang telah diresapi bio gasnya sedang diujicobakan ke kebun cabai sebagai pupuk organik. Lahan uji coba ini ada ialah milik kelompok tani. Jika memang sukses, baru akan dipersembahkan terhadap masyarakat luas.